Jangan Berhenti “Mengasah Kapak”

Jangan Berhenti “Mengasah Kapak”

Ketika orang masih hidup dengan kayu bakar, ada seorang saudagar yang memiliki banyak pencari kayu. Suatu hari dia menerima tukang pencari kayu baru yang badannya tegap berisi dan otot-ototnya menunjukkan keperkasaannya, suatu potensi yang sempurna untuk tukang kayu. Hari pertama bekerja, dia diberi kapak baru yang masih kinclong untuk memotong-motong kayu. Dia diberi gerobak yang ditarik keledai untuk membawa kayu hasil pencariannya.

Ketika sore hari tiba, tukang kayu baru ini datang dengan gerobak penuh terisi potongan-potongan kayu bakar. Dengan gembira sang saudagar menyambutnya, “Kerja yang bagus wahai tukang kayu, teruskan dan engkau akan aku naikkan pangkatmu bila dapat menjaga hasil yang seperti ini.”

Keesokan harinya dia kembali bekerja dengan membawa kapak dan gerobaknya, namun ketika sore hari pulang, sang saudagar tidak memberinya pujian karena dia hanya datang dengan membawa gerobak yang ¾ terisi. Sang saudagar maklum, mungkin tenaga baru ini masih belajar, jadi diberinya waktu.

Hari berikutnya dia bekerja lagi dan berangkat membawa kapak dan gerobak keledainya. Ketika sore hari tiba, sang saudagar tidak tahan untuk tidak memanggilnya karena dia melihat gerobaknya hanya terisi separuh. Dia bertanya, “Mengapa hasil kerjamu seperti ini? apa engkau sakit? Atau males? Atau tidak menyukai pekerjaanmu?”

Tukang kayu tersebut menjawab, “Tidak tuan, saya bekerja sama kerasnya dengan hari pertama saya bekerja, saya senang dan semangat sekali dengan pekerjaan ini dan saya juga sedikit istirahat”. Kemudian dia melanjutkan, “Tetapi kapakku yang semakin hari semakin tumpul, sehingga diperlukan lebih banyak ayunan untuk setiap potong kayunya, itulah yang menghabiskan waktuku sehingga kayu bakar yang saya bawa pulang semakin sedikit”.

Sang saudagar yang berpengalaman ini balik bertanya, “Apakah kamu tidak tahu bagaimana mengasah kapakmu, untuk menjaga tetap tajam setiap hari berangkat kerja?”. Dengan pertanyaan sang majikan ini si tukang kayu langsung tahu, bahwa dia harus mengasah kapak setiap pagi agar dia bisa optimal memotong kayu.

Mengasah kapak ini kemudian menjadi kebiasaan si tukang kayu . Dan, karena kinerjanya yang persistent baik, sang saudagar memenuhi janji untuk menaikkan pangkatnya. Setelah melalui pelatihan yang cukup, dia naik pangkat dari pencari kayu bakar menjadi tukang untuk membuat rumah.

Di karirnya yang baru pun tukang kayu ini rajin ‘mengasah kapak’nya sehingga hasil kerja dia semakin hari semakin bagus. Sang saudagar senang dengan pekerjaan ini dan selalu memberinya upah yang semakin baik. Tetapi usia ada batasnya, si tukang kayu semakin tua dan mulai lelah bekerja………….baca juga Saudagar Kaya dengan Empat Orang Istri

Dia pamit untuk berhenti bekerja ke majikannya, dan majikannya pun menyetujui. Hanya saja sang majikan memberi syarat  bahwa dia boleh berhenti bekerja setelah menyelesaikan satu rumah lagi, rumah terakhir pesanannya. Si Tukang kayu setuju untuk menyelesaikan satu rumah lagi sebelum benar-benar berkenti bekerja.

Tetapi karena sudah lelah, sudah ingin cepat berhenti bekerja, dia kehilangan fokusnya. Dia selesaikan ala kadarnya rumah pesanan terakhir sang majikan, maka ketika rumah tersebut selesai dan diserahkan ke majikan, tampilannya sangat buruk tidak seperti karya-karya dia sebelumnya.

Ketika kunci rumah diserahkan ke majikan, sang majikan mengembalikan kunci tersebut kepadanya sambil berkata, “Wahai tukang kayu, kunci dan rumah ini adalah untukmu, sebagai hadiahku kepadamu.” Si tukang kayu kaget bukan kepalang, dengan penuh sesal dalam hati dia berkata, “Seandainya saya tahu rumah terakhir itu untukku, pasti aku akan buat yang terbaik yang aku bisa buat.”

Begitulah kita semua, kita sering tidak tampil maksimal dalam kerja, dalam usaha dan dalam beribadah karena kita tidak rajin ‘mengasah kapak’. Kebanyakan kita jarang mau belajar, jarang menghadiri majelis-majelis ilmu dan enggan berguru kepada orang lain yang memiliki kelebihan.

Kita juga sering kehilangan fokus, dalam bekerja kita mengira bahwa pekerjaan ini hanya untuk kepentingan majikan kita sehingga kita bekerja hanya sekedar memenuhi kewajiban. Padahal sesungguhnya pekerjaan apapun yang kita lakukan baliknya pasti untuk kita sendiri.

Begitupun Allah yang telah memberi kita dunia ini untuk ladang beramal terbaik, sehingga siapapun ketika waktunya tiba ‘berhenti bekerja’ (berhenti beramal alias mati), ingin dihidupkan kembali agar dapat beramal yang lebih baik lagi. Bahkan orang-orang yang syahid di Jalan Allah sekalipun, mereka ingin dihidupkan kembali kemudian syahid lagi, dihidupkan lagi dan kemudian syahid lagi,dst.

Karena semua kebaikan akan balik pada diri kita, hal jazaa ul ihsaani illal ihsaan, maka mengapa kita tidak ‘rajin mengasah kapak’ sehingga mampu berbuat lebih dari yang menjadi kewajiban dan tidak kehilangan fokus sampai akhir hayat? Semoga Allah memudahkannya.Aamiin…

 

Muhaimin Iqbal, Inspiring one,hal 69-71.

 

Indahnya Berbagi

Salam Literasi dan Komunikasi

 

 

8 thoughts on “Jangan Berhenti “Mengasah Kapak”

  1. I would like to thnkx for the efforts you have put in writing this website. I am hoping the same high-grade site post from you in the upcoming as well. Actually your creative writing abilities has encouraged me to get my own website now. Really the blogging is spreading its wings rapidly. Your write up is a good example of it.

  2. Thank you for some other informative website. The place else may I am getting that kind of info written in such a perfect method? I have a venture that I’m simply now working on, and I have been on the glance out for such information.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.