Bakyak Pak Kyai dan Tukang Nasi Pecel

Kisah Motivasi Sukses

Bakyak Pak Kyai dan Tukang Nasi Pecel

Seorang Kyai yang sudah sepuh (tua) tinggal beberapa ratus meter dari suraunya yang selalu sepi. Dia selalu bangun satu jam menjelang subuh dan kemudian berjalan ke surau. Di keheningan malam desa, bakyak (alas kaki dari kayu) Pak Kyai ini menjadi pertanda awal pagi bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang jalan antara rumah Pak Kyai dengan suraunya. Begitu mendengar suara teklek, teklek,teklek, masyarakat yang mempunyai urusan pagi itu segera bangun untuk memulai urusannya.

Ada yang berangkat ke pasar pagi-pagi di hari pasar, ada yang mulai masak untuk membuka warungnya dlsb. sayangnya, sangat sedikit yang kemudian yang mengikuti Pak kyai ke surau. Hanya beberapa orang saja yang setia bermakmum di belakangnya ketika shalat shubuh ditegakkan.

Mengamati perilaku masyarakat yang dilaluinya, dalam setiap kesempatan Pak Kyai ini ingin selalu mendakwahi mereka. Maka, di suatu pagi sepulang shalat shubuh dia ingin mampir ke simbok tukang nasi pecel dan suaminya yang tidak pernah dilihatnya ke surau.

Setelah selesai makan nasi pecel dari warung tersebut Pak Kyai mulai dengan strategi dakwahnya, dia bertanya ke si mbok, “Bapake teng pundi, kok mboten ketingal?” (“Bapaknya di mana kok nggak kelihatan?“) “Wonten wingking, mbantu nggodog toya,” ( “Ada di belakang sedang membantu merebus air”) jawab si mbok.

Lalu Pak Kyai melanjutkan dialognya dalam bahasa Jawa tetapi langsung saya artikan yang kurang lebih begini, “setiap saya berjalan ke surau, saya melihat warung ini masih tutup, dan ketika saya pulang warung ini sudah selalu buka…,apa yang membuatnya demikian?”.

Si mbok menjawab, “Iya Pak Kyai, kami terbangun setiap mendengar bakyak Pak Kyai, untuk kemudian mulai masak dan membuka warung ini…”.

Pak Kyai yang sekaligus merangkap muadzin ini, mulai menangkap peluang untuk mendakwahinya, dia bertanya, “Lho, kenapa yang didengar kok suara bakyak saya , bukan ajakan saya untuk shalat di surau/masjid (suara adzan)?”

Dengan agak malu-malu si mbok berusaha menjelaskan alasan suaminya tidak ke surau, “Anu Pak Kyai, suara bakyak Pak Kyai bisa membangunkan kami, terus kami dapat mulai buka warung dan langsung dapat uang untuk makan sekeluarga. Ajakan shalat (adzan) Pak Kyai mengajak kami ke surau itu gimana ya.. lha terus yang mencarikan uang kami siapa?”.

Sambil pingin meyakinkan Pak Kyai dengan argumennya, si mbok balik bertanya, “Gusti Allah niku nopo estu enten nggih Pak Kyai? kok kulo nyuwun nopo-nopo dereng diparingi, dadose tasih kedah kerjo ngeten niki…!(Allah itu apa memang benar-benar ada ya Pak Kyai, kok saya minta apa-apa belum dikasih, jadi ya masih harus kerja seperti ini…!).

Mendapat pertanyaan yang seolah cerdas ini, Pak Kyai tidak langsung menjawabnya. Pertama, pertanyaan si mbok ini tidak diantisipasinya, dia tidak langsung siap menjawabnya saat itu. Kedua, dia tidak ingin berargumen dengan target dakwahnya pagi ini.

Setelah selesai makan nasi pecel Pak Kyai beranjak pergi. Di tengah jalan dilihatnya ada gelandangan dengan badan dan baju yang kotor, rambut berantakan dan selalu menengadahkan tangan minta-minta pada orang yang lalu lalang dengan kalimat standarnya yang memelas, “…telung dinten dereng mangan...” (tiga hari belum makan)…

Pak Kyai merasa dapat ilham langsung balik ke warung nasi pecel tadi, dengan bergegas dia menyampaikan ke si mbok yang tadi melayani dia, “Mbok, mbok, sampeyan lihat tukang ngemis di sana itu…?”                                                   Kisah yang menginspirasi

Si mbok menjawabnya, “Oh iya Pak Kyai, memang pekerjaannya setiap hari di situ ya begitu…”.

“Lantas mengapa mbok tidak memberinya makan nasi pecel ini? Nasi pecel di sini kan banyak sekali, dia tidak perlu bekerja dengan mengemis setiap hari kalau setiap dia datang ke warung ini mbok langsung beri dia makan…!” Berondong Pak Kyai.

Si Mbok kaget dengan saran pak kyai ini, dia menjawab, “Pak Kyai ini bagaimana sih! Nasi pecel yang ada di warung ini kan untuk dijual, kok kami malah disuruh memberikan begitu saja ke si pengemis…,mana bisa dia membayarnya?”.

“ini Dia,” pikir Pak Kyai. Dia langsung menyampaikan kalimat dakwahnya yang jitu ke si mbok, “Begitulah Allah mbok, dia punya apa saja yang mbok dan keluarga inginkan…,tetapi mana mau Dia memberikan semua keinginan ke mbok, lha wong mbok nggak mampu membayarnya kok…!”

Merasa logika Pak Kyai mengenainya, dia mulai tertarik, “Lha terus gimana Pak Kyai? Bagaimana kami bisa ‘membeli’ kepada Allah apa yang kami inginkan…”. Dengan senang Pak Kyai menjawab, “Dengan menaati-Nya mbok, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya…, ya antara lain kalau Dia memanggil untuk shalat ke surau/masjid , penuhilah panggilan-Nya. Terutama untuk suami mbok, datang ke masjid itu wajib bagi laki-laki”.

Begitulah kita semua, seperti keluarga tukang pecel tadi. Kita sibuk dengan urusan kita, sehingga ketika Allah memanggil (untuk shalat, zakat, menyantuni fakir-miskin, berhijrah untuk kebaikan, berjihad dst..) kita tidak segera meresponnya. Akan tetapi, ketika kita berdo’a minta kepadaNya, kita mau segera diberiNya. Mana bisa begitu?…..

Lanjutkan membaca Sang Makhluk Jujur, Klik Di Sini

Muhaimin Iqbal,Inspiring one, hal142-144

Indahnya Berbagi

Salam Literasi dan Komunikasi

 

38 thoughts on “Bakyak Pak Kyai dan Tukang Nasi Pecel

  1. I just want to tell you that I’m all new to blogs and certainly liked you’re web page. Likely I’m planning to bookmark your blog . You surely come with amazing articles and reviews. Thanks a lot for revealing your webpage.

  2. Good day! This is my first visit to your blog! We
    are a collection of volunteers and starting a new project in a community in the same niche.
    Your blog provided us beneficial information to work on. You
    have done a marvellous job!

  3. you are actually a excellent webmaster. The web
    site loading pace is incredible. It kind
    of feels that you’re doing any distinctive trick.
    Moreover, The contents are masterpiece. you’ve done a great activity on this subject!

  4. Hi there, just became aware of your blog through Google,
    and found that it is truly informative. I am gonna watch out for brussels.
    I’ll appreciate if you continue this in future. Many people will be benefited from
    your writing. Cheers!

  5. Hi! Someone in my Facebook group shared this website with us so I came to give
    it a look. I’m definitely enjoying the information. I’m book-marking and will be tweeting this to my
    followers! Great blog and excellent design.

  6. I’m now not positive the place you are getting your
    information, however great topic. I needs to spend some time learning much more
    or understanding more. Thanks for excellent info
    I used to be searching for this info for my mission.

  7. You actually make it seem so easy together with your presentation however I
    find this topic to be actually something that I feel
    I would by no means understand. It seems too complex and very wide for me.
    I am taking a look ahead for your subsequent put up, I will try to get the dangle of
    it! http://cort.as/-5zi-

  8. I really like your blog.. very nice colors & theme. Did you
    make this website yourself or did you hire someone to do it for you?
    Plz respond as I’m looking to construct my own blog and would like to
    know where u got this from. kudos

  9. I’m not sure where you’re getting your info, but great topic.

    I needs to spend some time learning more or understanding more.
    Thanks for great information I was looking for this information for my
    mission.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.