Menjadi Batu Bata Terbaik

Kecerdasan Spiritual

Menjadi Batu Bata Terbaik

Di kampung saya sangat sedikit uang berputar, tetapi kehidupan berjalan normal. Rata-rata masyarakat bisa hidup dari hasil tegalan atau sawahnya. Mereka juga memiliki rumah. Waktu kecil saya sering menyaksikan proses bagaimana warga desa yang miskin tersebut bisa membangun rumah, mereka memulainya dengan membuat sendiri batu bata yang dibutuhkannya. Terkadang batu bata ini harus ditumpuk dan menunggu waktu yang lama, menunggu kelengkapan lainnya, sebelum akhirnya bisa diwujudkan menjadi rumah yang indah untuk ukuran di kampung.

Membangun usaha, membangun masyarakat atau umat sampai membangun negara sekalipun juga seperti orang miskin membangun rumah di kampung tersebut, yaitu mulai dari mempersiapkan batu batanya. Bila telah cukup batu bata yang baik, maka tinggal menunggu waktu saja akan terbangun bangunan yang indah. Sebaliknya, bila kita tidak mempersiapkan batu bata yang baik, sebuah bangunan mungkin saja bisa kita bangun, tetapi kita juga harus bersiap menyaksikan kehancurannya.

Bila “bangunan” negeri ini nampak compang camping, terkenal akan korupsinya, dieksploitasi sumber daya alamnya oleh orang asing, dibanjiri pasarnya dengan produk yang serba import, ya sesungguhnya kita tidak bisa hanya menyalahkan para pemimpin kita. Kita juga perlu instropeksi, jangan-jangan kita juga belum bisa menjadi batu bata yang baik bagi “bangunan” negeri ini.

Dalam hal “bangunan” umat Islam ini juga demikian, kita yang mayoritas di negeri ini masih sering diperlakukan seperti minoritas, dikambing hitamkan, ditakut-takuti, dianggap ekstrimis dlsb. Lagi-lagi kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan pihak lain untuk ini, umat ini sendiri juga harus berbenah diri untuk menjadi batu bata yang terbaik di bidangnya masing-masing.                                        Kecerdasan Emosi  

Nampaknya peran sebagai batu bata inilah yang paling pas dan perlu disadari oleh kita semua. Bila sendirian kita atau kelompok kita berpretensi bisa membangun bangunan itu sendiri, kita akan cenderung merasa paling benar, menganggap yang dibangun orang lain salah, padahal kita sendiri belum tentu mampu membangunnya karena tidak cukup batu bata yang baik yang kita miliki.

Peran sebagai batu bata ini pulalah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw..Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah bercerita kepada kami Ismail bin Ja’far dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaanku dan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu-bata yang belum terselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan terkagum-kagum sambil berkata, ‘Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu-bata) di tempatnya ini’. Beliau bersabda, ‘maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para nabi’,” (HR Bukhari dan Muslim dengan narasi yang berbeda). Baca juga Badrun Ketinggalan Pesawat Di Sini

Kalau nabi saja membahasakan dirinya sebagai labinah (batu bata)-nya dan bukan bunyaan (bangunan)-nya, lantas apakah diri kita baik sendiri maupun bersama kelompok/golongan/partai dlsb. merasa bisa membangun bangunan umat ini sendiri?

Kesadaran bahwa diri kita hanyalah salah satu dari batu bata-batu bata bangunan yang ingin kita bangun, akan membuat kita fokus pada bidang yang kita memiliki competency-nya. Hal ini akan menyadarkan kita, bahwa kita membutuhkan orang lain untuk juga menjadi batu bata terbaik di bidangnya masing-masing.

Maka setelah batu bata-batu bata terbaik tersebut terkumpul, bangunan yang indah itu akan lebih mudah untuk diwujudkan. Bangunan yang bukan hanya manusia bumi yang bisa menikmatinya, tetapi bahkan Allah pun mencintainya,” Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan -akan seperti bangunan yang tersusun kokoh,” (QS Ash-Shaf [61]:4.Insyaa Allah..                                                      Kecerdasan Emosi dan Spiritual

Lanjutkan Membaca Tukang Tahu Kecemplung Sawah

Sumber: Muhaimin Iqbal, Inspiring One, hal 33-35

Indahnya Berbagi

Salam Literasi dan Komunikasi

One thought on “Menjadi Batu Bata Terbaik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.