Ilmu Sebelum Amal

Motivasi kehidupan

Ilmu Sebelum Amal

Dahulu kala ada gadis yang sangat cantik dari keluarga bangsawan yang ingin menjadi wanita sholehah. Karena di jaman itu pendidikan untuk wanita ini terbatas, maka cara yang paling efektif untuk belajar adalah melalui suami yang shaleh. Ketika si gadis ini hendak menikah, dengan keterbatasan ilmunya dia mensyaratkan tiga hal bagi lelaki yang layak untuk menjadi pendamping hidupnya. Tiga hal ini adalah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari, shalat malam sepanjang malam, dan berpuasa setiap hari sepanjang tahun.

Dengan syarat yang sangat berat bagi kebanyakan orang ini tidak ada laki-laki dari kalangan bangsawan yang berani melamar gadis cantik yang ingin menjadi wanita shalehah tersebut. Satu-satunya yang berani melamar dan sanggup memenuhi tiga syarat tersebut adalah pemuda lugu dari desa dengan penampilan yang biasa-biasa dan jelas tidak memiliki keturunan bangsawan sama sekali.

Setelah berjanji di depan ayah si gadis bahwa dia sanggup memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan putrinya, maka dinikahkanlah pemuda desa yang lugu ini dengan gadis cantik tersebut dengan disaksikan sejumlah kerabat dan handai taulan.

Hari demi hari dilalui oleh pasangan baru ini, tetapi si istri tidak melihat suaminya tersebut shalat malam. Sehabis shalat isya setelah bersenang-senang dengan istrinya, dia terus tidur sampai subuh. Awalnya sang istri pun memaklumi, “mungkin ini karena masih pengantin baru,” pikirnya.

Di siang hari sang istri juga mengamati ternyata si suami tidak terus berpuasa seperti janjinya, tidak pula membaca Al-Qur’an sampai khatam setiap hari. Maka setelah bulan berganti bulan suaminya tidak nampak memenuhi janjinya sebelum menikahi dirinya, sang istri mengajukan gugat cerai ke pengadilan yang dipimpin oleh hakim yang adil dan berilmu.

Ketika si istri yang mengajukan gugat cerai ini ditanya oleh hakim, mengapa dia melakukan gugat cerai, dia menjelaskan bahwa suaminya ternyata tidak memenuhi syarat yang diperjanjikan sebelum menikah. Hakim bertanya pula apa syarat-syarat yang dimaksud? dijawab dengan tiga hal tersebut di atas.

Kemudian sang hakim ganti bertanya kepada si suami yang nampak lugu dan tenang di hadapannya, “Benarkah sebelum menikahi istrimu ini engkau berjanji sanggup meng-khatamkan Al-Qur’an setiap hari, shalat malam sepanjang malam, dan perpuasa setiap hari sepanjang tahun?”

Si Suami menjawab, “Benar pak hakim!”

Sang hakim bertanya kembali,” Lantas mengapa janjimu tidak engkau tepati setelah benar-benar bisa mengawini istrimu ini?”

Si suami menjawab, ” sungguh pak hakim, semua janji saya selalu saya penuhi.”

Lalu sang hakim bertanya lagi, “Tetapi menurut kesaksian istrimu sendiri, dia tidak pernah melihat engkau memenuhi syarat-syaratnya? Dia tidak melihat engkau meng-khatamkan Al-Qur’an setiap hari, shalat malam sepanjang malam setiap malam, dan berpuasa setiap hari sepanjang tahun?”

Si suami dengan tenangnya menjelaskan, begini pak hakim, “setiap hari saya membaca surat Al-Ikhlas tiga kali, dan menurut Rasulullah Saw. ini sama dengan membaca seluruh Al-Qur’an.”

Hakim yang berilmu dan adil ini langsung paham apa yang dimaksud oleh si suami.

Dia penasaran, melanjutkan pertanyaan,” tetapi bagaimana engkau shalat sepanjang malam? sedangkan istrimu selalu melihat engkau tidur pulas sampai subuh?”

Dijawabnya dengan PD pula, “Saya selalu shalat Isya’ berjama’ah di Masjid, kemudian paginya saya kembali berjamaah pula shalat shubuh di Masjid, maka menurut Rasulullah Saw. ini seperti shalat sepanjang malam.”

Kembali si hakim manggut-manggut meskipun belum puas.

Dia bertanya lagi,” Di siang hari istrimu tidak juga melihat engkau berpuasa?” Sambil tersenyum si suami yang lugu ini pun siap menjawabnya, “Adapun untuk puasa ini pak hakim, saya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, kemudian saya juga puasa enam hari di bulan syawal. Menurut Rasulullah Saw., berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dan enam hari di bulan syawal adalah seperti puasa sepanjang tahun!’ Sang hakim pun tersenyum puas dengan jawaban si suami.

Kemudian sang hakim menyampaikan ke istri, “Setelah saya dengarkan penjelasan suamimu, suamimu sepenuhmya memenuhi syarat seperti yang engkau tetapkan sebelum ia menikahimu. Oleh karenanya engkau tidak cukup alasan untuk menggugatnya cerai atas syarat itu. Silakan lanjutkan rumah tanggamu, Insyaa Allah Allah memberkahi kalian berdua…..”

Kepada si suami sang hakim berpesan, “Engkau benar dengan jawaban-jawabanmu. dan engkau sepertinya memenuhi syarat untuk tetap menjadi suami dari istrimu ini sejauh engkau istiqamah melaksanakan apa yang sudah engkau laksanakan,” Kemudian dia melanjutkan,”Tetapi, seharusnya dari waktu ke waktu engkau bisa berbuat lebih dari yang dipersyaratkan istrimu. Dengan itu engkau bisa berbuat ikhsan terhadap istrimu, lebih dari yang dia persyaratkan, dan engkau pun insyaa Allah akan mendapatkan yang lebih dari yang sudah engkau dapatkan selama ini.”

Itulah gunanya ilmu sebelum kita berbuat atau beramal, ilmu akan memudahkan amal dan melipat gandakan hasilnya. Ilmu bisa membuat yang nampaknya berat menjadi ringan, yang nampaknya tidak mungkin menjadi mungkin. Sebaliknya berbuat atau beramal tanpa berilmu bisa lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Wa Allahu A’alam….

 

Sumber : Muhaimin Iqbal, Inspiring One, hal 166-168

Salam Literasi dan Komunikasi

Indahnya Berbagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.