Petani Tua dan Pohon Durian-nya

Motivasi Kehidupan

Petani Tua dan Pohon Durian-nya

Seorang petani tua dengan susah payah mencangkul tanah di halaman rumahnya untuk membuat lubang. Orang-orang yang lewat, sebagian besar hanya untuk basa-basi , tetapi ada yang memang serius bertanya, “Lagi buat apa pak?”.

Si Petani menjawab, “Ini, lagi pingin menanam durian!”.

Si Penanya menjadi penasaran. Ia bertanya lagi, ” Durian kan perlu waktu lama untuk berbuah?”.

Petani tua tersebut maklum dengan pertanyaan ini , dalam benaknya dia menebak si penanya pasti mengira bahwa dia menanam durian ini untuk dirinya sendiri, dengan usia yang dimiliki si petani, dia sadar bahwa kecil kemungkinan dia bisa menikmati buah durian yang dia tanam tersebut.

Lantas si petani menjawab, “Begini, sampai setua ini aku menggemari buah durian. Akan tetapi semua durian yang aku makan selama ini adalah hasil tanaman orang lain. Maka, kini giliranku untuk menanam durian, agar orang lain nantinya bisa memakan durian hasil dari tanamanku ini”.

Petani tua tersebut menjadi representasi dari kita semua. Banyak sekali kenikmatan dan kemudahan hidup yang kita nikmati, tanpa kita pernah sadari siapa-siapa yang dijadikan oleh Sang Pencipta untuk mengantarkan kemudahan dan kenikmatan hidup itu sampai ke kita?

Siapa yang menanam padi yang kemudian menjadi nasi yang kita makan? siapa yang mengambil air bersih, memurnikannya dan membotolkannya untuk kita minum? Siapa yang membuat roda itu bulat, yang dengannya kita bisa bepergian cepat kemana saja tanpa susah payah?.dlsb.dlsb.

Seperti petani tua tersebut, selama ini kita menikmati ‘durian’ hasil tanaman orang lain, lantas kapan kita menanam ‘durian’ untuk dinikmati orang lain?

itulah esensinya seorang entrepreneur. Dari waktu ke waktu dia berpikir keras untuk menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan pasar. Dia mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dia ‘mencangkul dengan susah payah’ untuk mempersiapkan ‘tanaman’ dari produk atau solusi yang digagasnya. Dia menanggung resiko bahwa tidak semua ‘tanaman’ yang ditanamnya dengan susah payah tersebut akhirnya benar-benar hidup dan menghasilkan buah yang diharapkannya.

Karena sedikitnya orang yang ‘menanam’ di negeri yang berpenduduk sekitar 240 juta ini, maka kita menjadi pasar bagi penduduk di negeri lain yang rajin ‘menanam’nya. Kita menjadi net importer untuk sejumlah komoditi pangan  sehari-hari kita seperti gula, susu, daging, gandum, dan bahkan juga kadang beras dan garam!

Juga untuk kebutuhan sekunder atau bahkan tersier seperti alat-alat elektronik, telekomunikasi, transportasi, entertainment dlsb. Kita menjadi pasar yang empuk bagi para ‘penanam’ dari negeri-negeri lain.

Maka seharusnya kita seperti petani tua tersebut di atas, selama ini kita sudah terlalu banyak ‘makan durian’ tetapi bukan dari hasil jerih payah kita menanam. ‘Durian’ hasil tanaman orang lain yang kita makan.

Kini waktunya kita menanam ‘durian-durian’ tersebut untuk kita makan sendiri ataupun agar orang lain nantinya bisa makan ‘durian-durian’ kita. ‘Durian-durian’ yang menjadi peluang kita untuk ‘menanam’-nya ini dapat berupa :

» Pendidikan yang bagus untuk anak cucu kita agar nantinya umat ini menjadi umat yang unggul, yang memberi manfaat untuk orang lain dan bukan menjadi beban bagi orang lain.  Baca juga Hidup adalah ‘Roller Coaster Gratis klik di Sini

» Menanam betulan untuk produk-produk pertanian dan peternakan unggul, agar umat ini dapat mandiri dalam hal kebutuhan pokoknya yaitu pangan.

» Mengembangkan dan memproduksi produk-produk yang ramah lingkungan agar generasi yang akan datang tetap dapat menghirup udara bersih dan memperoleh air yang layak minum.

» Mengimplementasikan sistem hukum yang adil agar perbuatan yang benar yang terlindungi, bukan yang membayar yang terlindungi.

» Mengembangkan temuan-temuan teknologi, agar hidup umat menjadi lebih berkualitas- dan bukan menjadi sasaran eksploitasi umat lain yang menemukan  dan mengembangkan teknologi lebih unggul.

» Dlsb.dlsb.

Dibandingkan umat lain yang ‘menanam’ hanya untuk tujuan komersial, sesungguhnya kita mestinya lebih rajin menanam dalam arti yang sesungguhnya – karena kita tetap diperintahkan menanam ketika proses kiamat telah mulai – artinya menanam ini pekerjaan yang valid sampai hari kiamat.

Dalam arti kiasan, ‘menanam’ untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita yang lain – kebutuhan apa saja yang baik, juga sangat didorong untuk dilakukan oleh umat ini. Dalam sahih bukhari, Rasulullah Saw.bersabda, “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak didzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya”.

Saudara-saudara muslim kita sekarang banyak yang lagi terdzalimi dalam bentuk harus memenuhi kebutuhannya dengan mahal. Bahkan sebagiannya tidak terjangkau, sebagian yang lain di ‘serahkan’ ke musuh dalam arti harfiah dan lebih banyak lagi dalam arti kiasan. Karenanya mengapa tidak kita mulai bersusah payah ‘mencangkul’ untuk menanam ‘durian’ dalam berbagai bentuknya yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita? Dengan ‘menanam’ tersebut insyaa Allah kita juga bisa berharap pada janji Allah, bahkan Allah akan memenuhi kebutuhan kita! Aamiin. Silakan lanjutkan membaca Telinga Sang Ibu di Sini

                                                                                                                 Inspirasi kehidupan

Sumber : Muhaimin Iqbal, Inspiring One, hal 44-46.

Indahnya Berbagi

Salam Literasi dan Komunikasi

One thought on “Petani Tua dan Pohon Durian-nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.