Cahaya Ilahi di Hati Anak Durhaka

Kisah Inspiratif

Cahaya Ilahi di Hati Anak Durhaka

Dinar Al Ayyar adalah seorang pemuda yang penuh dengan pelukan dosa. Ia berbeda jauh dengan ibunya yang lemah lembut lagi sholehah. Dinar adalah anak yang tergolong durhaka kepada orangtuanya dan kehidupannya dipenuhi dengan gelimang kemaksiatan. Nasihat-nasihat ibunya yang menginginkan Dinar kembali ke jalan yang lurus selalu diabaikannya. Tidak hanya itu, kata-kata kasar pun telah terbiasa keluar dari mulut Dinar kepada ibunya. Meskipun sakit hati dengan ucapan-ucapan Dinar, ibunya tetap melantunkan bait-bait permohonan kepada Allah untuk kesadaran anaknya.

Hari demi hari dilalui Dinar dengan tindakan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada ibunya. Setiap hari pula ibunya dengan sabar senantiasa mengingatkan Dinar untuk bertobat. Meskipun, nasihat ibunya itu hanya dianggap angin yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Suatu saat, ketika hendak berangkat menuju tempat maksiat, Dinar berjalan melewati kuburan. Kuburan itu penuh dengan tulang-tulang yang berserakan. Sesaat ia mengamati tulang-tulang itu. Perlahan-lahan hatinya tergerak untuk memungut salah satu tulang yang telah rapuh. Ketika tulang itu digenggamnya, tiba-tiba tulang itu hancur.

Hati Dinar tersentuh dibuatnya. Dalam ketertegunan ia berkata dalam hati , kelak tulangku juga akan hancur seperti ini, kemudian menjadi tanah.Sedangkan hingga hari ini perbuatanku masih saja melampaui batas, melanggar norma-norma agama. Perlakuanku terhadap ibuku pun amat buruk. Aku telah menjadi anak durhaka, tidak pernah menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim. Bila aku tidak segera bertobat, bagaimana keadaanku kelak di akherat?

Timbullah kesadaran di hati Dinar untuk bertobat. Tiba-tiba kakinya merasa lemas dan akhirnya ia terduduk  di kuburan itu sambil meratap, “Ya Allah! kupasrahkan segala urusanku ini kepada-Mu. Terimalah tobatku ini dan kasihanilah diriku untuk mencari ridho-Mu!”

Dengan muka kusut dan hati yang patah, Dinar kembali ke rumah. Ia tidak meneruskan perjalanan menuju kemaksiatan. Di rumah ia menemukan wajah damai ibunya yang sangat sabar mengurusnya semenjak kecil, meski ia selalu menyakitinya. Dinar lalu berlutut dihadapan ibunya sambil berkata , “Ibu, apa yang dilakukan seorang hamba yang melarikan diri jika diambil oleh tuannya?”

Agak terperanjat juga ibunya melihat kelakuan Dinar. Tetapi jauh dalam lubuk hatinya, ia yakin bahwa telah ada sinar Tuhan yang mulai menyelusup ke relung hati Dinar. Kemudian ibunya menjawab, “Hamba yang melarikan diri itu akan memakai pakaian yang kasar  dan memakan makanan yang kasar. Ia juga akan dibelenggu kedua tangan dan kakinya!”

Setelah mendengar perkataan ibunya, Dinar berkata, “Ibu, aku ingin jubah wol dan roti bulat yang terbuat dari biji sya’ir. Aku juga ingin diperlakukan seperti engkau memperlakukan seorang hamba yang melarikan diri. Semoga Tuhan mengasihiku setelah melihat kehinaanku!” Karena ingin melihat Dinar benar-benar bertobat, ibunya pun mengabulkan permintaannya.

Sejak saat itu, jika malam datang Dinar pun menangis meratapi dirinya yang penuh dengan dosa-dosa maksiat. Apabila ia mengingat perbuatan dirinya, tangisannya terdengar bertambah memilukan hati. Dalam ratapannya, Dinar senantiasa berkata pada dirinya, hai Dinar, kuatkah engkau menahan api? Bagaimana engkau akan menghadapi kemarahan Tuhan Yang Maha perkasa?

Demikianlah yang dilakukan Dinar Al Ayyar dalam menebus penyesalannya dari malam hingga pagi tiba. Hal itu membuat ibunya tidak tega. Maka ibunya berkata, “Kasaihanilah dirimu wahai anakku!”

Namun Dinar menjawab, “Biarlah bu….Biarlah aku sedikit lelah, biar aku bisa beristirahat lama. Wahai ibu, sesungguhnya aku akan berdiri lama di hadapan Tuhan Yang Maha Agung. Aku tidak tahu apakah aku akan dibawa ketempat yang teduh ataukah akan terjerembab ke tempat yang paling buruk. Aku takut akan kepayahan yang tiada akhir atau kecaman yang tanpa ampunan!”

“Istirahatlah sebentar,” desak ibunya. Lalu Dinar menjawab, “Perlukah orang seperti aku untuk beristirahat wahai ibu? Apakah ibu bisa menjamin keselamatanku?

“Apa yang bisa aku jaminkan untukmu?” kata ibunya

Dinar menjawab, “oleh karena itu wahai ibu, biarkanlah aku dalam keadaan seperti ini. Apakah engkau suka melihat orang-orang digiring ke surga sedangkan aku dilemparkan ke neraka?”

Ibunya terdiam. Namun dalam hatinya ia memanjatkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah karena berkat petunjuk-Nyalah Dinar mau bertobat. Ia amat bangga terhadap Dinar yang sekarang.

Pada suatu malam, Dinar Al-Ayyar membaca Al-Qur’an  surah Al Hijr ayat 92-93 yang artinya,                                                                           Kisah Inspiratif

Maka demi Tuhanmu, kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” 

Lama Dinar merenungi isi kandungan ayat tersebut. Ketika ingatannya sampai pada perbuatan maksiatnya  dan kedurhakaannya kepada ibunya, ia menangis dengan tangisan yang amat memilukan. Begitu hebat penyesalannya hingga tubuhnya bergetar dan menggigil layaknya orang yang amat kedinginan. Sesaat kemudian ia tidak sadarkan diri.

Ibunya tidak mengetahui keadaan Dinar. Ketika ibunya memanggil, Dinar tidak bisa memberi jawaban. Ketika ibunya memanggil untuk yang kedua kalinya dan berkata, “Anakku sayang, di manakah kita akan bertemu?” Dinar yang baru sadar dari pingsan menjawab pertanyaan ibunya dengan suara yang amat lemah, “Ibu, jika ibu tidak menemukanku di Padang Mahsyar, tanyakanlah kepada malaikat Malik tentang keberadaanku!”

Setelah itu, ibunya mendengar jeritan Dinar yang tertahan. Kontan ibunya berlari ke tempat Dinar dan mendapati Dinar telah meninggal dunia. Maka, ibunya pun menangis dengan tangisan kesedihan yang mendalam.

Ibunya kemudian mengurus jenazah Dinar. Ketika tiba saat menshalatinya, ibunya berlari keluar untuk memanggil orang-orang , “Kemarilah kalian! Shalatilah orang yang takut neraka ini!”

Orang-orang pun berdatangan ke rumah Dinar al-Ayyar untuk menshalati jenazahnya. Sebelumnya tak terlihat manusia sebanyak ini yang ikut dalam shalat jenazah di kampung mereka. Banyak pula diantara mereka yang meneteskan air mata, karena mereka telah menyaksikan kesalehan Dinar al-Ayyar setelah bertobat. Semoga Dinar al-Ayyar dikumpulkan bersama orang-orang saleh dan berserah diri………………..

Sumber : Isnaeni Fuad, Dahsyatnya Tobat , hal29-32

Indahnya Berbagi

Salam Literasi dan Komunikasi

3 thoughts on “Cahaya Ilahi di Hati Anak Durhaka

  1. I’m not sure why but this site is loading extremely slow for me. Is anyone else having this problem or is it a issue on my end? I’ll check back later on and see if the problem still exists.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.