Hidupmu Sebelum Matimu

Brakkk…..

“Apaan itu Mar?” Ridwan berteriak.

“Pintu panel listriknya jatuh, Wan. Pantas saja lampu di gedung ini sering mati. Lihat nih pintu panelnya aja kayak gini.” Amar bersungut-sungut sambil merapikan panel yang terjatuh saat Amar mencoba membuka pintu panel listrik.

“Yo wes, nanti aja lagi. Magriban dulu yuk,” ajak Ridwan saat melihat dari jendela hari sudah mulai gelap.

“Nanggung ini dikit lagi. Ntar aku nyusul. Kamu duluan aja, Wan.” Amar menyahut dan meneruskan kembali pekerjaannya.

“Duluan ya,” pamit Ridwan.

Ridwan dan Amar bekerja di salah satu instansi listrik yang ditugaskan untuk memantau beberapa gedung yang terletak di sepanjang jalan MH. Thamrin dan Sudirman. Mereka mendapat keluhan bahwa salah satu gedung yang sekarang sedang mereka perbaiki sering mati lampu dan mengganggu aktivitas karyawan di sana.

Sayup-sayup dan semakin kencang suara azan terdengar. Ridwan segera turun dan meninggalkan pekerjaannya yang sedang memperbaiki panel listrik di salah satu gedung di bilangan Sudirman. Sedang Amar masih melanjutkan pekerjaannya yang menurutnya tinggal finishing saja.

Ridwan mengganti pakaiannya dengan baju koko dan kain sarung yang sengaja ia bawa untuk melaksanakan shalat. Karena dia selalu diajarkan oleh orangtuanya,” saat shalat kenakanlah pakaian terbaikmu, ibarat kau akan bertemu dengan bos besar atau atasanmu. Jika bertemu dengan pejabat atau bos besar kau harus bersusah payah mencari dan mengenakan pakaian terbaik yang kau punya, maka apalagi ketika kau menghadap sang Pencipta.”

Dari pesan itulah, Amar tidak pernah lupa membawa baju koko dan kain sarung terbaiknya ke mana pun ia pergi. Meski itu bukanlah sebuah keharusan yang mutlak, namun bagi dia adab dan etika terhadap Sang Pencipta adalah harga mati.

Di tengah keheningan jamaah shalat Magrib, tiba-tiba lampu padam lagi. Imam pun lantas lebih mengeraskan suaranya, karena jika suara imam tak dibantu speaker tidak begitu terdengar oleh jamaah di shaf belakang. Untung letak masjid yang di bawah tanah menjadikan Masjid hening dan tak terganggu suara kendaraan meskipun masjid terletak tak jauh dari jalan raya.

“Assalamualaikum warahmatullah..Assalamualaikum warahmatullah..gerakan salam Imam pun mengakhiri Salat Magrib berjamaah tersebut.

Dengan cepat Ridwan segera mengganti baju dan menuju lantai 11 untuk mengecek apa yang menyebabkan listrik mati lagi.

“Mar, Mar…” Suara Ridwan mencari Amar.

Hening, tak ada suara.

‘Ah, mungkin Amar belum selesai shalat Magribnya. Bukankah tadi dia bilang akan menyusul?’ pikirnya meski tiba-tiba ada hal yang tak enak di hatinya.

Samar-samar Ridwan mencium bau seperti ada sesuatu terbakar.

‘Mungkin karena korsleting jadinya mati lampu,” pikirnya lagi

Ridwan kembali menjelajah kegelapan lantai 11 yang merupakan pusat listrik di gedung itu. Benar-benar gelap gulita, tak sedikit pun ada cahaya yang menerangi dan naasnya lagi Ridwan lupa membawa senternya, tadi ia tinggalkan di dekat panel listrik.

Ya Allah di dunia saja segelap ini apalagi nanti di alam kubur-Mu Ya Rabb..Astagfirullah, ampuni hamba ya Rabb,” Ridwan terus bermain dengan pikirannya.

Saat Ridwan sedang mencari-cari pegangan dan berjalan menuju panel listrik tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu.

Gubrakkkkkkk…

“Astagfirullah..apa ini.

Ridwan segera meraih meja di dekat panel tempat ia menaruh senternya..Segera ia sorotkan lampu senternya pada bagian yang menyandungnya tadi. Dan….saat itulah ia tercekat.

“Astagfirullah…Amaaaaaaaaar!”

Ridwan melihat Amar tergeletak dengan tubuh membiru dan bau terbakar. Di sana dia melihat tubuh Amar terbujur kaku dan mengeluarkan bau gosong seperti terbakar. Tak tunggu lama lagi, segera ia cari bantuan, ia panggil satpam yang tengah berjaga di sana dan segera menggotong Amar ke Rumah Sakit terdekat.Namun, sayang sungguh sangat disayangkan, Amar tidak tertolong. Amar menutup usianya saat itu juga.

Selidik punya selidik ternyata ada kabel yang terkelupas dan mengenai badan Amar hingga menyengatnya dan menghentikan denyut jantungnya seketika.

Pembelajaran

Sungguh usia itu tidak ada yang tahu kapan berakhirnya. Amar adalah sebuah pelajaran, betapa batas hidup dan kematian setipis kulit bawang. Kita tidak bisa mendeteksi kapan dan di mana kita akan berakhir.

Tugas kitalah mengisi hari-hari dengan kebaikan. lalai, mungkin saja kita lakukan tapi bukan berarti kita tidak memiliki cara untuk terus memperbaiki diri.

Hidup akan terus berjalan dan waktu tak kan pernah menunggu. Di setiap sebaran darah dan hembusan nafas mari senantiasa kita selipkan rasa syukur dan terus berbuat kebaikan. Karena kita tidak pernah tahu kapan dan di mana kita akan berakhir.

Sumber : Memang Untuk dibaca, Rian Hidayat Abi dkk (Widia Endang Nurmalasari), hal 1-5.

Sumber : Memang Untuk dibaca, Rian Hidayat Abi dkk (Widia Endang Nurmalasari), hal 1-5.

Indahnya berbagi

Salam Literasi

One thought on “Hidupmu Sebelum Matimu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.