Renungan Kematian

Pernahkah anda memperhatikan rambu-rambu lalu lintas yang menunjukkan tanda “bahaya”? Jika anda sekedar melihatnya selintas, anda hanya akan mendapatkan gambar tengkorak dengan tulang bersilang. Namun, jika anda secara jeli memperhatikannya, Anda akan merasakan nuansa bahaya yang mengerikan sekaligus mematikan, sebagai penanda bahwa tempat itu “berbahaya”. Bahkan, nyawa menjadi taruhannya.

Pertanyaannya sekarang, benarkan tempat berbahaya itu selalu mendatangkan kematian? Termasuk, apakah kematian itu sesuatu yang mengerikan?

Umumnya manusia menganggap kematian itu sesuatu yang menakutkan, menyakitkan, dan mengerikan. Karena, secara tabiatnya, manusia ingin hidup dan mencintai kehidupan. Dia tidak ingin susah, takut, sedih, sakit, dan ngeri. Kematian dianggap bersinonim dengan semua yang tidak diinginkannya itu.

Demikian pula dengan tempat yang dianggap “berbahaya”. Manusia cenderung menjauhinya, tidak ingin mendekati, apalagi mamasukinya. Kalaupun terpaksa memasukinya, manusia akan berusaha ekstra hati-hati dan penuh kewaspadaan karena dia merasa “maut” tengah mengintainya.

Hanya, apakah selamanya kita terkungkung dengan persepsi seperti itu? Padahal, kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi bagi setiap makhluk yang bernyawa. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang pasti mengalami kematian, sudah selayaknya kita mempersiapkan diri menghadapi kematian. Apalagi, bagi seorang muslim, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Namun, justru sebaliknya. Kematian adalah sesuatu yang membahagiakan karena dengan kematianlah langkah awal umat manusia bertemu dengan rabbnya dimulai. Bukankah hamba-hamba-Nya yang beriman selalu menempatkan cinta tertinggi hanya untuk Allah Swt., sekaligus merindukan saat-saat bertemu langsung dengan-Nya?

Kini, kita yang selalu merindukan bertemu dengan Allah yang maha Indah, tinggal mempersiapkan diri menyambut kematian itu, sekaligus memilih tempat terindah kembali keharibaan-Nya. Bukankah dalam hidup ini kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan? Demikian pula dalam menantikan akhir kehidupan ini, pilihan-pilihan itu selalu menyertai kita. Apakah saat maut datang menjemput, kita dalam keadaan taat kepada-Nya ataukah kita tengah membangkang-nya ? Allah Swt telah memberikan pilihan-pilihan kepada hamba-hamba-Nya, fujuraha wataqwaha? Bergelimang dosa ataukah berselimutkan ketaqwaan? oleh karena itu, predikat husnul Khatimah ataukah su’ul khatimah selalu ada dalam kuasa kita untuk memilihnya..

Sumber: Kado Ingat Mati, Ustadz Yusuf Mansyur, hal vii-viii

Indahnya berbagi

Salam Literasi dan Komunikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.